BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Penelitian adalah
terjemahan dari kata Inggris Research. Sebagian ahli menejermahkan research
dengan kata riset. Research itu sendiri berasal dari kata re, yang berarti “
kembali ” dan to search yang berarti “ mencari kembali “ menurut kamus
Webster’s New International, penelitian adalah penyelidikan yang hati hati dan
kritis dalam mencari fak ta dan prinsip prinsip, suatu penyelidikan yang amat
cerdik untuk menetapkan sesuatu. Pencarian yang dimaksud dalam hal ini tentunya
pencarian terhadap pengetahuan yang benar (ilmiah), karena hasil dari pencarian
itu akan dipakai untuk menjawab menjawab permasalahan tertentu.[1]
Sedangkan Islam adalah agama
yang dibawa oleh Nabi terakhir yaitu Muhammad SAW. untuk menyembah Allah Swt.
dengan Al-Qur’an dan Hadis yang menjadi pedoman untuk umatnya.
Seperti yang tertera
dalam Q.S Al-An’am :
“
Dan sungguh, inilah jalanku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti
jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalannya.
Demikianlah dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa “.
Dapat disimpulakan
bahwa Studi Islam adalah penelitian atau kajian tentang Islam dan penelirian
ilmiah tentang sesuatu yang berhubungan dengan ke Islaman.
Dalam makalah kami kali
ini, kami akan membahas tentang Ruang Lingkup Studi Islam dengan beberapa sub
point yang terdapat di BAB selanjutnya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa itu Islam
dan Studi Agama?
2.
Apa urgensi dan
tujuan Studi Islam?
3.
Bagaimana Islam
sebagai sasaran Studi dan Penelitian?
4.
Bagaimana
pertumbuhan Studi Islam di dunia?
C.
Manfaat Mempelajari Makalah
1.
Mengetahui apa
itu Islam dan Studi Agama.
2.
Mengetahui apa
urgensi dan tujuan Studi Islam
3.
Mengetahui
Bagaimana Islam sebagai sasaran Studi dan Penelitian.
4.
Mengetahui
bagaimana pertumbuhan Studi Islam di dunia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Islam dan Studi Agama
1.
Islam
Islam, dapat didefinisikan secara normatif merujuk
kepada Al-Qur’an sebagai sumber utamanya. Didalam Al-Qur’an ditemukan sejumlah
kata Islam dengan berbagai derivasinya yang menunjukkan makna dari Islam
tersebut.
a.
Islam
berarti penyerahan dan kepatuhan kepada khalik
Firman Allah dalam Q.S. Ali-Imran: 83 :
....
kepadanyalah menyerahkan diri (bersilam) segala apa yang di langit dan di bumi,
baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka
dikembalikan. “
Ayat diatas menjelaskan makna kata “Islam” secara
generik, yaitu bermakna kepatuhan dan ketundukan seluruh makhluk kepada Allah
dan kepada ketentuan/ aturan yang ditetapkan Allah.
b.
Islam
bermakna sebagai agama yang diakui Allah dan agama semua Nabi-Nabi Allah.
Firman Allah dalam Q.S. Al-An’am:
163 :
“
Tiada sekutu baginya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku
adalah orang yang pertama tama
menyerahkan diri (kepada Allah) “.
c.
Islam
sebagai agama terakhir yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW
Firman Allah dalam Q.S. Al-Maidah:
3 :
“
.... Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan
kepadamu nikmatku, dan telah ku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.... “
2.
Studi
Agama
Menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ) Studi
berarti Penelitian Ilmiah, Kajian dan Telaahan. Penlitian adalah cara ilmiah
untuk mendapatkan data atau informasi sebagaimana adanya dan bukan sebagaimana
seharusnya dengan tujuan dan kegunaan tertentu.[5]
Agama adalah jalan hidup dengan kepercayaan kepada
tuhan yang maha esa berpedoman kitab suci dan dipimpin oleh seorang Nabi.[6]
Ada empat unsur yang harus ada pada defenisi agama tersebut yaitu :
1. Agama
merupakan jalan hidup (way of life).
2. Mengajarkan
kepercayaan adanya tuhan yang maha esa.
3. Mempunyai
kitab suci (wahyu).
4. Dipimpin
oleh seorang Nabi dan Rasul.[7]
Dapat disimpulkan bahwa Studi (penelitian) agama
adalah penlitian ilmiah yang berkaitan dengan agama yang bertujuan untuk
memahami agama agama dan arti pentingnya bagi kehidupan umat manusia serta
mempergunakan pengetahuan dan pemahaman tersebut untuk menciptakan
kesejahteraan bersama umat manusia.
B. Urgensi dan Tujuan Studi Islam
1.
Urgensi
Studi Islam
a. Umat islam
saat ini berada dalam kondisi problematic
Umat islam pada saat ini berada pada
masa yang lemah dalam segala aspek kehidupan social budaya yang mana
harus berhadapan dengan dunia modern yang serba psraktis dan maju. Oleh karena
itu, umat islam tidak boleh terjebak pada romantisme, artinya menyibukkan diri
untuk membesar-besarkan kejayaan masa lalu yang terwujud dalam sejarah islam,
sementara saat ini islam masih silau menghadapi masa depannya. umat islam
memang berada dalam suasana problematic. Jika sekarang umat islam masih
berpegang teguh pada ajaran-ajaran islam hasil penafsiran ulama terdahulu
yang dianggap sebagai ajaran yang
mapan dan sempurna serta paten, berarti mereka memiliki intelektual
sebatas itu saja yang pada akhirnya menghadapi masa depan suram.
Oleh karena itu, disinilah pentingnya
studi islam yang dapat mengarahkan dan bertujuan untuk mengadakan usaha-usaha
pembaharuan dan pemikiran kembali ajaran-ajaran agama islam yang merupakan
warisan ajaran yang turun temurun agar mampu beradaptasi dan menjawab tantangan
serta tuntutan zaman dan dunia modern dengan tetap berpegang pada sumber ajaran
islam yang murni dan asli, yaitu Al-quran dan As sunnah. Studi islam juga dapat
diharapkan mampu memberikan pedoman dan pegangan hidup bagi umat islam agar
tetap menjadi seorang muslim sejati yang hidup dalam dan mampu menjawab
tantangan serta tuntutan zaman modern maupun era global sekarang.[8]
b. Umat islam
dan peradabannya berada dalam suasana problematic
Perkembangan
IPTEK telah membuka era baru dalam perkembangan budaya dan peradaban umat
manusia. Dunia tampak sebagai suatu system yang saling memiliki
ketergantungan Oleh karenanya, umat manusia tentunya membutuhkan
aturan, norma serta pedoman dan pegangan hidup yang dapat diterima oleh semua
bangsa.
Umat manusia
dalam sejarah peradaban dan kebudayaannya telah berhsil menemukan aturan,
nilai, norma sebagai pegangan dan pedoman yang berupa: agama,
filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat manusia pada masa yang serba
canggih semakin menjadikan manusia-manusia modern kehilangan identitas serta kemanusiaannya
(sifat-sifat manusiawinya).
Islam,
sebagai agama yang rahmatullah
lil ‘alamin, tentunya mempunyai konsep atau ajaran yang
bersifat manusiawi dan universal, yang dapat menyelamatkan umat manusia dan
alam semesta dari kehancurannya. Akan tetapi, umat islam sendiri saat ini
berada dalam situasi yang serba problematic. Kondisi kehidupan social budaya
dan peradaban umat islam dalam keadaaan lemah dan tidak berdaya berhadapan
dengan budaya dan peradaban manusia dan dunia modern. Disinilh urgensi nya
studi islam, yaitu untuk menggali ajaran-ajaran islam yang asli ndan murni, dan
yang bersifat manusiawi. Dari situlah kemudian dididikkan dan ditransformasikan
kepada generasi penerusnya yang bisa menawarkan alternative pemecahan
permaslahan yang dihadapi oleh umat manusia dalam dunia modern.[9]
2.
Tujuan Studi
Islam
a. Untuk
mempelajari secara mendalam apa sebenarnya (hakikat) agama Islam.
b. Untuk
mempelajari secara mendalam pokok – pokok isi ajaran agama Islam yang asli dan
operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya dan peradaban
Islam sepanjang sejarahnya.
c. Untuk
mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang tetap abadi
dan dinamis.
d. Untuk
mempelajari secara mendalam prinsip – prinsip dan nilai – nilai dasar ajaran
agama Islam, dan bagaimana membimbing dan mengarahkan serta mengontrol
perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern.[10]
C. Islam sebagai sasaran Studi dan
Penelitian
Menurut Moh. Nur Hakim bahwa tidak semua aspek
agama khususnya islam dapat menjadi objek studi. Dalam konteks khusus studi
islam ada beberapa aspek dari islam yang dapat menjadi objek yaitu :
1.
Islam Sebagai Doktrin Agama
Islam sebagai doktrin agama
dari Tuhan yang kebenarannya bagi para pemeluknya sudah final dalam arti
absolut dan diterima secara apa adanya.
Agama sebagai elemen yang
sangat penting dalam kehidupan umat manusia dapat dilihat dari dua segi yaitu
dari segi isi dan dari segi bentuknya. Dari segi isinya agama adalah ajaran
atau wahyu Tuhan yang dengan sendirinya tidak dapat dikategorikan sebagai
kebudayaan. Sedangkan dari segi bentuknya, agama dapat dipandang sebagai
kebudayaan batin manusia yang mengandung potensi psikologi yang mempengaruhi
jalan hidup manusia.
Dengan demikian, yang dapat
diteliti adalah pada bentuk atau praktik yang tampak dalam kehidupan sosial
yang dipandang sebagai kebudayaan batin manusia.
Penelitian dapat dilakukan
pada bentuk pengalaman dari ajaran agama tersebut, misalnya kita dapat meneliti
tingkat keimanan dan ketaqwaan yang dianut masyarakat. Selain itu, penelitian
agama juga dapat dilakukan dalam upaya menggali ajaran-ajaran agama yang
terdapat dalam kitab suci serta kemungkinan aplikasinya sesuai dengan
perkembanga zaman.
2.
Islam
Sebagai Gejala Budaya
Pada mulanya, ilmu terbagi menjadi dua yaitu ilmu kealaman dan ilmu budaya.
Ilmu kealaman, seperti fisika, kimia, biologi dan lain-lain mempunyai tujuan
utama mencari hukum-hukum alam, mencari keteraturan-keteraturan yang terjadi
pada alam. Sedangkan ilmu budaya mempunyai sifat tidak berulang, tetapi unik.
Di dalam kebudayaan terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat
istiadat, dan sebagainya. Kesemuanya itu selanjutnya digunakan sebagai kerangka
acuan oleh seseorang dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya.
Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami
agama yang terdapat pada tataran empiris atau agama yang tampil dalam bentuk
formal yang menggejala di masyaarakat. Pengamalan agama yang terdapat di
masyarakat tersebut diproses oleh penganutnya dari sumber agama, yaitu wahyu
melalui penalaran. Misalnya, membaca kitab fiqih, maka fiqih yang
merupakan pelaksanaan dari nash Al-qur’an maupun Hadits sudah melibatkan unsur
penalaran dan kemampuan manusia. Dengan demikian, agama menjadi membudaya atau
membumi ditengah-tengah masyarakat. Agama yang tampil dalam bentuknya yang
demikian itu berkaitan dengan kebudayaan yang berkembang di masyarakat tempat
agama itu berkembang. Dengan melalui pemahamaan terhadap kebudayaan tersebut,
seseorang akan dapat mengamalkan ajaran agama.
3.
Islam Sebagai Interaksi Sosial
Membahas
tentang realitas umat islam. Contohnya, interaksi antara orang-orang yang
beragama islam yang menggunakan norma-norma islam, termasuk penelitian
keislaman. Demikian juga pengamatan terhadap para pemeluk islam dalam
interaksinya dengan para pemeluk agama lain. Mereka memahami dan
mengekspresikan nilai-nilai islam dalam interaksi antara pemeluk agama-agama yang berbeda. Itu semua dapat menjadi sasaran
penelitian agama.
4.
Islam Sebagai Produk Sejarah dan Sasaran Penelitian
Ada bagian
islam yang menjadi produk sejarah. Teologi syi’ah adalah dari wajah islam produk
sejarah. Konsep khulafa al- rasyidin adalah produk sejarah, seluruh bangunan
sejarah islam klasik, tengah modern adalah produk sejarah.andai kan islam tidak berkumpul dengan
budaya jawa, sejarahnya di
Indonesia akan lain lagi. Andai kata inggris tidak datang ke India sejarah
islam di anak benua itu tidak akan lain lagi. Demikianlah sebagian wajah islam
di belahan dunia adalah produk sejarah. Tasawuf dan akhlak sebagai ilmu adalah produk sejarah. Akhlak sebagai
nilai sumber dari wahyu, tetapi sebagai ilmu yang disistematisasi
akhlak adalah produk sejarah.
Selain itu,
produk islam yang berkembang dan sangat terkenal di nusantara yakni tentang
penyebaran islam di pulau jawa oleh para walisongo yang menggunakan
berbagai metode diantaranya pewayangan yang awalnya ceritanya tentang mahabarata
agama hindu, setelah islam masuk ceritanya diadopsi ke dalam kancah cermin
islam walaupun melalui kiasan dan ada pula yang menggunakan metode
syair atau tembang-tembang jawa yang bernapaskan islam.[11]
D. Pertumbuhan Studi Islam di dunia
1.
Sejarah Perkembangan Studi Islam di Dunia
Muslim
Studi
Islam di dunia Islam sama dengan menyebut studi Islam di dunia muslim. Dalam
sejarah muslim dicatat sejumlah lembaga kajian Islam di sejumlah kota. Maka
uraian berikut adalah sejarah perkembangan studi Islam di dunia muslim.
Akhir
periode Madinah sampai dengan 4 H, fase pertama pendidikan Islam sekolah masih
di masjid-masjid dan rumah-rumah dengan ciri hafalan namun sudah dikenalkan
logika. Selama abad ke 5 H, selama periode khalifah ‘Abbasiyah sekolah-sekolah
didirikan di kota-kota dan mulai menempati gedung-gedung besar dan mulai
bergeser dari matakuliah yang bersifat spiritual ke matakuliah yang bersifat
intelektual, ilmu alam dan ilmu sosial.
Berdirinya
sistem madrasah justru menjadi titik balik kejayaan. Sebab madrasah dibiayai
dan diprakarsai negara. Kemudian madrasah menjadi alat penguasa untuk
mempertahankan doktrin-doktrin terutama oleh kerajaan Fatimah di Kairo.
Pengaruh
al-Ghazali (1085-1111 M) disebut sebagai awal terjadi pemisahan ilmu agama
dengan ilmu umum. Ada beberapa kota yang menjadi pusat kajian Islam di
zamannya, yakni Nisyapur, Baghdad, Kairo, Damaskus, dan Jerussalem. Ada empat
perguruan tinggi tertua di dunia Muslim yakni: (1) Nizhamiyah di Baghdad, (2)
al-Azhar di Kairo Mesir, (3) Cordova, dan (4) Kairwan Amir Nizam al-Muluk di
Maroko. Sejarah singkat masing-masing pusat studi Islam ini digambarkan sebagai
berikut :
2.
Nizhamiyah
di Baghdad
Perguruan
Tinggi Nizhamiyah di Baghdad berdiri pada tahun 455 H / 1063 M. perguruan
tinggi ini dilengkapi dengan perpustakaan yang terpandang kaya raya di Baghdad,
yakni Bait-al-Hikmat, yang dibangun oleh al-Makmun (813-833 M). salah seorang
ulama besar yang pernah mengajar disana, adalah ahli pikir Islam terbesar Abu
Hamid al-Ghazali (1058-1111 M) yang kemudian terkenal dengan sebutan imam
Ghazali.
Perguruan
tinggi tertua di Baghdad ini hanya sempat hidup selama hampir dua abad. Yang
pada akhirnya hancur akibat penyerbuan bangsa Mongol dibawah pimpinan Hulagu
Khan pada tahun 1258 M.
3.
Al-Azhar
di Kairo Mesir
Panglima
Besar Juhari al-Siqili pada tahun 362 H/972 M membangun Perguruan Tinggi
al-Azhar dengan kurikulum berdasarkan ajaran sekte Syiah. Pada masa
pemerintahan al-Hakim Biamrillah khalifah keenam dari Daulat Fathimiah, ia pun
membangun pepustakaan terbesar di al-Qahira untuk mendampingi Perguruan tinggi
al-Azhar, yang diberri nama Bait-al-hikmat (Balai Ilmu Pengetahuan), seperti
nama perpustakaan terbesar di Baghdad.
Pada
tahun 567 H/1171 M daulat Fathimiah ditumbangkan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi
yang mendirikan Daulat al-Ayyubiah (1171-1269 M) dan menyatakan tunduk kembali
kepada Daulat Abbasiyah di Baghdad. Kurikulum pada Pergutuan Tinggi al-Azhar
lantas mengalami perombakan total, dari aliran Syiah kepada aliran Sunni.
Ternyata Perguruan Tinggi al-Azhar ini mampu hidup terus sampai sekarang, yakni
sejak abad ke-10 M sampai abad ke-20 dan tampaknya akan tetap selama hidupnya. Universitas al-Azhar
dapat dibedakan menjadi dua periode: pertama, periode sebelum tahun 1961 dan
kedua, periode setelah tahun 1961. Pada periode pertama, fakultas-fakultas yang
ada sama dengan fakultas-fakultas di IAIN, sedangkan setelah tahun 1961, di
universitas ini diselenggarakan fakultas-fakultas umum disamping fakultas
agama.
4.
Perguruan
Tinggi Cordova
Adapun
sejarah singkat Cordova dapat digambarkan demikian, bahwa ditangan daulat
Ummayah semenanjung Iberia yang sejak berabad-abad terpandang daerah minus,
berubah menjadi daerahyang makmur dan kaya raya. Pada masa berikutnya Cordova
menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang gilang gemilang sepanjang Zaman Tengah.
The Historians history of the World, menulis tentang perikeadaan pada masa
pemerintahan Amir Abdurrahman I sebagai berikut: demikian tulis buku sejarah
terbesar tersebut tentang perikeadaan Andalusia waktu itu yang merupakan pusat
intelektual di Eropa dan dikagumi kemakmurannya. Sejarah mencatat, sebagai
contoh, bahwa Aelhoud dari Bath (Inggris) belajar ke Cordova pada tahun 1120 M,
dan pelajaran yang dutuntutnya ialah geometri, algebra (aljabar), matematik. Gerard
dari Cremonia belajar ke Toledo seperti halnya Adelhoud ke Cordova. Begitu pula
tokoh-tokoh lainnya.
5.
Kairwan
Amir Nizam al-Muluk di Maroko
Perguruan
tinggi ini berada di kota Fez (Afrika Barat) yang dibangun pada tahun 859 M
oleh puteri seorang saudagar hartawan di kota Fez, yang berasal dari Kairwan
(Tunisia). Pada tahun 305 H/918 M perguruan tinggi ini diserahkan kepada
pemerintah dan sejak itu menjadi perguruan tinggi resmi, yang perluasan dan
perkembangannya berada di bawah pengawasan dan pembiayaan negara. Seperti
halnya Perguruan tinggi al-Azhar, perguruan tinggi Kairwan masih tetap hidup
sampai kini. Diantara sekian banyak alumninya adalah pejuang nasionalis muslim
terkenal.
Penyebab
utama kemunduran dunia muslim khususnya di bidang ilmu pengetahuan adalah
terpecahnya kekuatan politik yang digoyang oleh tentara bayaran Turki. Kemudian
dalam kondisi demikian datang musuh dengan membawa bendera perang salib.
Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan ketika itu dihancurkan Hulaghu Khan 1258
M. Pusat-pusat studi termasuk yang dihancurkan Hulaghu.
6.
Sejarah
Perkembangan Studi Islam di Barat
Kontak
Islam dengan Barat (Eropa) dapat dikelompokkan menjadi dua fase, yakni: (1) di
masa kejayaan Islam (abad ke 8 M) kalau melihat Spanyol adalah abad 13 M, dan
(2) di masa renaissance / runtuhnya muslim, dimana Barat yang berjaya (selama
abad ke 16 M) sampai sekarang.
7.
Fase
Kejayaan Muslim
Seperti terungkap ketika membahas sejarah perkembangan studi
Islam di dunia Muslim, bahwa kontak pertama antara dunia Barat dengan dunia
muslim adalah lewat kontak perguruan tinggi. Bahwa sejumlah ilmuan dan
tokoh-tokoh barat datang di perguruan tinggi muslim untuk memperdalam ilmu
pengetahuan dan teknologi. Di dunia Islam belahan timur, perguruan tinggi
tersebut berkedudukan di Baghdad dan di Kairo, sementara di belahan barat ada
di Cordova.
Bentuk lain dari kontak dunia muslim dengan dunia barat pada
fase pertama adalah penyalinan manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa latin sejak
abad ke-13 M hingga bangkitnya zaman kebangunan (renaissance) di Eropa pada
abad ke-14. Berkat penyalinan karya-karya ilmiah dari
manuskrip-manuskrip Arab itu, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang
ilmiah tersebut di Barat. Apalagi sesudah aliran empirisme yang dikumandangkan
oleh Francis Bacon menguasai alam pikiran di Barat dan berkembangnya observasi
dan eksperimen.
Setelah ilmu-ilmu yang dahulunya dikembangkan muslim masuk ke
Eropa dan dikembangkan oleh sarjana-sarjana Barat, dirasakan banyak tidak
sejalan dengan Islam. Misalkan dirasakan dirasuki oleh paham sekuler dan
sejenisnya. Karena itu, beberapa ilmuan melakukan usaha pembersihan.
8.
Fase
Renaissance / Runtuhnya Muslim
Uraian
berikut adalah gambaran kontak muslim dengan dunia barat pada periode kedua
yang berlangsung selama abad renaissance. Selama abad renaissance Eropa
menguasai dunia ntuk mencari mata dagangan, komersial, dan penyebaran agama.
Kedatangan
muslim fase kedua ke dunia barat, khususnya eropa barat dilator belakangi oleh
dua alasan pokok, yakni: (1) alasan politik dan (2) alasan ekonomi. Alasan
politik adalah kesepakatan kedua negara, yang satu sebagai bekas penjajah,
sementara yang satunya sebagai bekas jajahan. Misalnya Perancis mempunyai
kesepakatan dengan negara bekas jajahannya, bahwa penduduk bekas jajahannya boleh
masuk ke Perancis tanpa pembatasan. Maka berdatanglah muslim dari Afrika Barat
dan Afrika Utara, khuusnya dari Algeria ke Perancis. Adapun alasan ekonomi
adalah untuk mencukupi tenaga buruh yang dibutuhkan negara-negara Eropa Barat.
Untuk menutupi kebutuhan itu Belgia, Jerman, Belanda merekrut buruh dari Turki,
Maroko, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, sementara Inggris
mendatangkan dari negara-negara bekas jajahannya. Adapun kategori Muslim yang
ada di Eropa Barat ada dua, yakni pendatangg (migran) dan penduduk asli.
9.
Sejarah
Perkembangan Studi Islam di Indonesia
Perkembangan
studi Islam di Indonesia dapat digambarkan demikian. Bahwa lembaga / sistem
pendidikan islam di Indonesia mulai dari sistem pendidikan langgar, kemudian
sistem pesantren, kemudian berlanjut dengan sistem pendidikan di
kerajaan-kerajaan Islam, akhirnya muncul sistem kelas.
Maksud
pendidikan dengan sistem langgar adalah pendidikan yang dijalankan di langgar,
surau, masjid atau di rumah guru. Kurikulumnya pun bersifat elementer, yakni
mempelajari abjad huruf arab. Dengan sistem ini dikelola oleh ‘alim, mudin,
lebai. Mereka ini umumnya berfungsi sebagai guru agama atau sekaligus menjadi
tukang baca do’a. pengajaran dengan sistem langgar ini dilakukan dengan dua
cara. Pertama, dengan sorongan, yakni seorang murid berhadapan secara langsung
dengan guru dan bersifat perorangan. Kedua, adalah dengan cara halaqah, yakni
guru dikelilingi oleh murid-murid.
Adapun
sistem pendidikan di pesantren, dimana seorang kyai mengajari santri dengan
sarana masjid sebagai tempat pengajaran / pendidikan dan didukung oleh pondok
sebagai tempat tinggal santri. Di pesantren juga berjalan dua cara yakni
sorongan dan halaqah. Hanya saja sorongan di pesantren biasanya dengan cara si
santri yang membaca kitab sementara kyai mendengar sekaligus mengoreksi jika
ada kesalahan. Sistem pengajaran berikutnya adalah pendidikan
dikerajaan-kerajaan Islam, yang dimulai dari kerajaan Samudera Pasai di Aceh.
Adapun materi yang diajarkan di majlis ta’limdan halaqah di kerajaan pasai
adalah fiqh mazhab al-Syafi’i.
Pada
akhir abad ke 19 perkembangan pendidikan Islam di Indonesia mulai lahir sekolah
model Belanda: sekolah Eropa, sekolah Vernahuler. Seklah khusus bagi ningrat
Belanda, sekolah Vernahuler khusus bagi warga negara Belanda. Di samping itu
ada sekolah pribumi yang mempunyai sistem yang sama dengan sekolah-sekolah
Belanda tersebut, seperti sekolah Taman Siswa.
Kemudian
dasawarsa kedua abad ke 20 muncul madrasah-madrasah dan sekolah-sekolah model
Belanda oleh organisasi Islam seperti Muhammadiyah, NU, Jama’at al-Khair, dan
lain-lain.
Pada
level perguruan tinggi dapat digambarkan bahwa berdirinya perguruan tinggi
Islam tidak dapat dilepaskan dari adanya keinginan umat Islam Indonesia untuk
memiliki lembaga pendidikan tinggi Islam sejak zaman kolonial. Pada bulan April
1945 diadakan pertemuan antara berbagai tokoh organisasi Islam, ulama, dan
cendekiawan. Setelah persiaapan cukup, pada tanggal 8 Juli 1945 atau tanggal 27
Rajab 1364 H bertepatan dengan Isra’ dan Mi’raj diadakan acara pembukaan resmi
Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta. Dari sinilah sekarang kita mengenal UII,
IAIN, UIN, STAIN dan sebagainya.[12]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Studi adalah kata lain dari
Penelitian, Sedangkan Penelitian merupakan hasil terjemahan dari bahasa inggris
yaitu Research. Secara terminologi Penelitian adalah cara
ilmiah untuk mendapatkan data atau informasi sebagaimana adanya dan bukan
sebagaimana seharusnya dengan tujuan dan kegunaan tertentu.
Islam
merupakan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW sebagi nabi dan Rasul terakhir.
Jadi
Studi Islam merupakan penelitian atau kajian yang berkaitan dengan Islam dan
Keislaman.
Tujuan
dari Studi Islam antara lain :
a. Untuk
mempelajari secara mendalam apa sebenarnya (hakikat) agama Islam.
b. Untuk
mempelajari secara mendalam pokok – pokok isi ajaran agama Islam yang asli dan
operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya dan peradaban
Islam sepanjang sejarahnya.
c. Untuk
mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama islam yang tetap abadi
dan dinamis.
d. Untuk
mempelajari secara mendalam prinsip – prinsip dan nilai – nilai dasar ajaran
agama Islam, dan bagaimana membimbing dan mengarahkan serta mengontrol
perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern.
No comments:
Post a Comment